Selasa, 06 Desember 2011

Madinah Menyambut


Setelah melalui proses imigrasi di bandara dan melakukan clearance barang bawaan, yang Alhamdulillah di kloter kami lancar tanpa kendala, akhirnya bus kloter yang sudah menunggu kami beranjak meninggalkan bandara Amir Muhammad.  Tidak jauh dari bandara, hanya sekitar 30 menit sudah mulai terlihat suasana kota yang ramai dengan bangunan tinggi berciri khas hotel dan apartemen.

Dari sela-sela bangunan itu mulai terlihat menara masjid, semakin dekat semakin jelas menara masjid dan pucuk payung yang menjadi ciri khasnya. Ya, itulah masjid Nabawi. Subhanallah Alhamdulillah, jangankan mereka yang baru menginjakkan kaki di tanah haram ini, saya yang sudah pernah sholat di sana pun sangat bahagia melihatnya.
Kami langsung diantar bus ke hotel Amdjad Al Salam yang letaknya sekitar 200m arah tenggara masjid Nabawi. Proses penurunan rombongan cukup lancar, hanya terkendala peletakan koper besar kami. Karena koper dibawa oleh porter sementara mereka tidak tahu pemilik koper ada di kamar lantai berapa, jadinya koper ditaruh begitu saja di lantai yang ada. Koper saya sendiri nyasar ke lantai 4, padahal kamar saya di lantai 6. Akhirnya sebelum bisa masuk kamar kami harus angkat koper dan harus lewat tangga karena lift nya antri panjang oleh jemaah yang baru tiba.

Selama di Madinah ini kami memang mendapat fasilitas yang "lebih" daripada di Mekah seperti penginapan sekelas hotel dengan isi 4-5 orang dalam 1 kamar, makan catering 3 kali, dan letak hotel yang cukup dekat dengan masjid. Mungkin karena jadwal di Madinah memang lebih singkat yaitu 8-9 hari sehingga tidak terlalu menguras "kantong" dari biaya haji.

Ibadah istimewa yang biasanya diburu setipa orang di Madinah ini adalah sholat arbain, yaitu sholat 40 waktu tiada putus, yang kalkulasinya berarti bisa dilaksanakan dalam 8 hari. Dengan fadillah nya dijauhkan dari api neraka, tentu membuat semua ingin memenuhi bilangan dari ibadah sunnah ini. Sayangnya pas berada di sini saya terhalangi oleh tamu bulanan yang datang pas hari ke-2 berada di Madinah. Tapi memang sudah ketentuanNya, saya hanya bisa memperbanyak doa dan dzikir selama libur.

Sementara ibadah lain yang banyak dilaksanakan para jamaah adalah ziarah ke Raudlah, di mana terdapat makam Rasulullah, Umar bin Khattab dan Abu Bakar di sisinya. Lebih lengkapnya di blog saya lain tentang Raudlah.

Dalam rangkaian ibadah Madinah ini kami mendapat jatah ziarah dari penyelenggara yaitu ke masjid quba dan kebun Kurma. Seharusnya juga ke jabal Uhud namun karena waktu terlalu mepet sholat dhuhur, akhirnya rombongan kami tidak turun ke jabal uhud. Bus kami hanya melewati jalan di tepinya saja.
Namun karena ingin sekali melihat tempat lain di Madinah, akhirnya hari esoknya saya dan keluarga memutuskan untuk menyewa taxi mengunjungi tempat-tempat yang lain. Info selebihnya di blog tentang ziarah Madinah.

Pengalaman di Madinah sangat menyenangkan. Madinah memang kota yang berkesan, dengan Masjidil Nabawi yang elok. Kami paling senang saat di masjid melibat payung di halaman Nabawi terbuka-tutup, saat dhuhur dan maghrib, atau melihat atap di bawah qubanya yang keemasan dibuka  saat berkumandang azan Shubuh, sehingga langit di atasnya terlihat dari dalam masjid. Arsitektur yang modern dan mewah, dan sangat mengesankan pengagungan atas masjid peninggalan Rasulullah dan basis beliau dalam menyebarkan agama Islam di awal-awal perjuangannya ini.
Subahanallah.

Madinah Menyambut


Setelah melalui proses imigrasi di bandara dan melakukan clearance barang bawaan, yang Alhamdulillah di kloter kami lancar tanpa kendala, akhirnya bus kloter yang sudah menunggu kami beranjak meninggalkan bandara Amir Muhammad.  Tidak jauh dari bandara, hanya sekitar 30 menit sudah mulai terlihat suasana kota yang ramai dengan bangunan tinggi berciri khas hotel dan apartemen.

Dari sela-sela bangunan itu mulai terlihat menara masjid, semakin dekat semakin jelas menara masjid dan pucuk payung yang menjadi ciri khasnya. Ya, itulah masjid Nabawi. Subhanallah Alhamdulillah, jangankan mereka yang baru menginjakkan kaki di tanah haram ini, saya yang sudah pernah sholat di sana pun sangat bahagia melihatnya.
Kami langsung diantar bus ke hotel Amdjad Al Salam yang letaknya sekitar 200m arah tenggara masjid Nabawi. Proses penurunan rombongan cukup lancar, hanya terkendala peletakan koper besar kami. Karena koper dibawa oleh porter sementara mereka tidak tahu pemilik koper ada di kamar lantai berapa, jadinya koper ditaruh begitu saja di lantai yang ada. Koper saya sendiri nyasar ke lantai 4, padahal kamar saya di lantai 6. Akhirnya sebelum bisa masuk kamar kami harus angkat koper dan harus lewat tangga karena lift nya antri panjang oleh jemaah yang baru tiba.

Selama di Madinah ini kami memang mendapat fasilitas yang "lebih" daripada di Mekah seperti penginapan sekelas hotel dengan isi 4-5 orang dalam 1 kamar, makan catering 3 kali, dan letak hotel yang cukup dekat dengan masjid. Mungkin karena jadwal di Madinah memang lebih singkat yaitu 8-9 hari sehingga tidak terlalu menguras "kantong" dari biaya haji.

Ibadah istimewa yang biasanya diburu setipa orang di Madinah ini adalah sholat arbain, yaitu sholat 40 waktu tiada putus, yang kalkulasinya berarti bisa dilaksanakan dalam 8 hari. Dengan fadillah nya dijauhkan dari api neraka, tentu membuat semua ingin memenuhi bilangan dari ibadah sunnah ini. Sayangnya pas berada di sini saya terhalangi oleh tamu bulanan yang datang pas hari ke-2 berada di Madinah. Tapi memang sudah ketentuanNya, saya hanya bisa memperbanyak doa dan dzikir selama libur.

Sementara ibadah lain yang banyak dilaksanakan para jamaah adalah ziarah ke Raudlah, di mana terdapat makam Rasulullah, Umar bin Khattab dan Abu Bakar di sisinya. Lebih lengkapnya di blog saya lain tentang Raudlah.

Dalam rangkaian ibadah Madinah ini kami mendapat jatah ziarah dari penyelenggara yaitu ke masjid quba dan kebun Kurma. Seharusnya juga ke jabal Uhud namun karena waktu terlalu mepet sholat dhuhur, akhirnya rombongan kami tidak turun ke jabal uhud. Bus kami hanya melewati jalan di tepinya saja.
Namun karena ingin sekali melihat tempat lain di Madinah, akhirnya hari esoknya saya dan keluarga memutuskan untuk menyewa taxi mengunjungi tempat-tempat yang lain. Info selebihnya di blog tentang ziarah Madinah.

Pengalaman di Madinah sangat menyenangkan. Madinah memang kota yang berkesan, dengan Masjidil Nabawi yang elok. Kami paling senang saat di masjid melibat payung di halaman Nabawi terbuka-tutup, saat dhuhur dan maghrib, atau melihat atap di bawah qubanya yang keemasan dibuka  saat berkumandang azan Shubuh, sehingga langit di atasnya terlihat dari dalam masjid. Arsitektur yang modern dan mewah, dan sangat mengesankan pengagungan atas masjid peninggalan Rasulullah dan basis beliau dalam menyebarkan agama Islam di awal-awal perjuangannya ini.
Subahanallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar