Senin, 12 Desember 2011

Raudhah

Hari-hari di Madinah selain sholat 5 waktu di masjid Nabawi terus menerus sampai mencapai 40 waktu atau disebut sholat arbain, biasanya banyak jamaah yang berburu masuk ke Raudhah.

Dalam satu hadits rasulullah menyebutkan bahwa antara rumahku dengan mimbarku adalah taman diantara taman-taman surga. Rumah rasul adalah yang sekarang menjadi makam beliau bersama sahabat. Dari sini ke mimbar atau tempat imam itulah yang disebut raudhatul janah atau raudhah.

Saya dan teman-teman rombongan tidak sengaja bisa ke sini pada hari kedua di Madinah. Awalnya kami sholat subuh masuk dari pintu yang tidak biasa, biasanya kami dari pintu tujuh puluhan yang terdekat dari arah hotel, tapi pada hari itu kami masuk dari pintu 25. Selesai sholat subuh para jamaah wanita di situ langsung merapat ke sisi batas shaf lelaki-perempuan. 

Awalnya kami agak heran kenapa bukannya langsung bubar, malah merapatkan barisan atau "umpel-umpelan" di situ. Setelah melihat ada pembagian berdasar bangsa oleh azkar, baru kami sadar ini para jamaah yang akan ziarah ke makam rasul dan tentunya ke Raudhah. Kamipun langsung bergabung dengan jamaah Melayu. Jamaah Melayu ini bukan hanya orang Indonesia dan Malaysia, tapi juga Thailand. Ya, meskipun agama minoritas, tapi pada saat haji ini kami banyak menjumpai jamaah dari Thailand terutama dari daerah Pattani atau Thailand selatan. Mereka serumpun dengan kita, bangsa melayu dan memakai bahasa yang sama dengan orang Malaysia.

Area Raudhad ini luasnya hanya sekitar 22x20 meter, merupakan bagian dari tempat shaf jamaah pria. Bayangkan saja, area sekecil itu akan dimasuki oleh jamaah yang jumlahnya ribuan. Tentu kami harus sabar mengantri untuk bisa masuk ke dalamnya. Kalau beruntung mendapat panggilan pertama, waktu menunggu tidak terlalu lama, tapi kalau dapat giliran terakhir, ya sabar saja.

Sebelum masuk dan pintu dibuka, seorang azkar berbahasa melayu terlebih dulu memberikan arahan kepada kami dengan megaphone. Dia mengingatkan supaya tertib dan bersabar masuk ke Raudhah, dan tidak boleh berlari-lari karena ini merupakan area masjid serta ada makan Rasul yang agung. Dia juga mengingatkan jamaah untuk tidak egois dengan berlama-lama solat dan berdoa di sana, karena masih banyak jamaah lain yang menunggu untuk bisa beribadah di sana. 

Selain itu, dia juga memberi arahan syariat tentang solat. Menurutnya, solat sunnah yang dicontohkan rasul hanya solat tahajud, istiharah, dluha dan solat mutlak. Sementara solat-solat sunnah lain yang sering kita lakukan seperti solat hajat tidak dicontohkan. Tapi masalah seperti ini memang akhirnya kembali kepada keyakinan kita.

Berderetan bangsa mulai dari Pakistan, Turki, Arab, India, Iran, Melayu dan yang lain yang jumlahnya sedikit di depan batas shaf. Akhirnya pintu Melayu terbuka terlebih dulu, yang berarti giliran kami duluan. Meskipun sudah diperingatkan untuk tidak berlari, tetap saja nafsu mengalahkan akal. Barisan pertama memulai berlari, yang di belakangnyapun mengikuti. Semua karena ingin cepat-cepat mendapat tempat di Raudhah. 

Saat pertama melihat pintu raudhah dan pintu makam rasulullah di sampingnya yang hanya terlihat bagian atas karena tertutup tabir, semua jamaah terlihat menangis tersedu. Keinginan melihat dan merasa dekat dengan rasul yang mulia membuat kami tak dapat membendung air mata. Sambil berdoa dan bersolawat, banyak yang menangis bahkan sampai tersedu-sedu. Biasanya jamaah India yang “lebay” meratap di sini sampai ditegur oleh azkar.  Kamipun segera solat sunnah 2 rakaat dan membaca doa  yang ada di buku, tapi tidak berpanjang-panjang. Tak lupa juga memanjatkan hajat saya untuk dikabulkan. 

Satu yang sangat memprihatinkan di tempat yang suci dan seharusnya terjaga ini, jamaah Indonesia malah banyak yang mengotorinya dalam artian lahir dan zahir dengan mencoret tabir yang menjadi pembatas area raudhah dengan menuliskan nama-nama keluarganya. Banyak yang bilang agar nama-nama itu ikut terpanggil ke tanah suci. Subhanallah, bukankah ini perbuatan yang mengarah pada kesyirikan dan coretan di kain putih itu sangat mengotori masjid dan tidak enak dipandang. Pada lain kesempatan saat saya akan melaksanakan solat lewat pintu 25, razia isi tas oleh azkar melarang kami membawa alat tulis ke dalam. Padahal alat tulis itu sering perlu untuk mencatat. Beginilah kalau ada perbuatan yang tidak benar oleh segelintir orang.

Satu lagi yang dilarang keras di dalam masjid, bukan hanya raudhah tapi keseluruhan area adalah mengambil foto. Meskipun banyak yang berhasil, tapi bila ketahuan azkar bisa-bisa kamera atau HP kita dirampas. Saya kebetulan menemui kejadian tersebut. Jamaah Indonesia yang dengan santainya mengambil foto padahal ada azkar di depannya, langsung saja kameranya diambil. Karena memohon sampai menangis akhirnya HP nya bisa kembali, tapi sang azkar mengancam kalau tertangkap sekali lagi akan dibawa ke polisi.

Kembali tentang Raudhah. Tempat ini memang tidak boleh dilewatkan oleh jamaah haji dan umroh. Meskipun ibadah di sini bukan rukun dan sunnah, namun suasana raudhah dan bahwa tempat ini disebut salah satu tempat yang ijabah, membuatnya selalu memikat para jemaah sampai rela antri dan menunggu untuk dapat berdoa di dalamnya.
Raudhah

Selasa, 06 Desember 2011

Madinah Menyambut


Setelah melalui proses imigrasi di bandara dan melakukan clearance barang bawaan, yang Alhamdulillah di kloter kami lancar tanpa kendala, akhirnya bus kloter yang sudah menunggu kami beranjak meninggalkan bandara Amir Muhammad.  Tidak jauh dari bandara, hanya sekitar 30 menit sudah mulai terlihat suasana kota yang ramai dengan bangunan tinggi berciri khas hotel dan apartemen.

Dari sela-sela bangunan itu mulai terlihat menara masjid, semakin dekat semakin jelas menara masjid dan pucuk payung yang menjadi ciri khasnya. Ya, itulah masjid Nabawi. Subhanallah Alhamdulillah, jangankan mereka yang baru menginjakkan kaki di tanah haram ini, saya yang sudah pernah sholat di sana pun sangat bahagia melihatnya.
Kami langsung diantar bus ke hotel Amdjad Al Salam yang letaknya sekitar 200m arah tenggara masjid Nabawi. Proses penurunan rombongan cukup lancar, hanya terkendala peletakan koper besar kami. Karena koper dibawa oleh porter sementara mereka tidak tahu pemilik koper ada di kamar lantai berapa, jadinya koper ditaruh begitu saja di lantai yang ada. Koper saya sendiri nyasar ke lantai 4, padahal kamar saya di lantai 6. Akhirnya sebelum bisa masuk kamar kami harus angkat koper dan harus lewat tangga karena lift nya antri panjang oleh jemaah yang baru tiba.

Selama di Madinah ini kami memang mendapat fasilitas yang "lebih" daripada di Mekah seperti penginapan sekelas hotel dengan isi 4-5 orang dalam 1 kamar, makan catering 3 kali, dan letak hotel yang cukup dekat dengan masjid. Mungkin karena jadwal di Madinah memang lebih singkat yaitu 8-9 hari sehingga tidak terlalu menguras "kantong" dari biaya haji.

Ibadah istimewa yang biasanya diburu setipa orang di Madinah ini adalah sholat arbain, yaitu sholat 40 waktu tiada putus, yang kalkulasinya berarti bisa dilaksanakan dalam 8 hari. Dengan fadillah nya dijauhkan dari api neraka, tentu membuat semua ingin memenuhi bilangan dari ibadah sunnah ini. Sayangnya pas berada di sini saya terhalangi oleh tamu bulanan yang datang pas hari ke-2 berada di Madinah. Tapi memang sudah ketentuanNya, saya hanya bisa memperbanyak doa dan dzikir selama libur.

Sementara ibadah lain yang banyak dilaksanakan para jamaah adalah ziarah ke Raudlah, di mana terdapat makam Rasulullah, Umar bin Khattab dan Abu Bakar di sisinya. Lebih lengkapnya di blog saya lain tentang Raudlah.

Dalam rangkaian ibadah Madinah ini kami mendapat jatah ziarah dari penyelenggara yaitu ke masjid quba dan kebun Kurma. Seharusnya juga ke jabal Uhud namun karena waktu terlalu mepet sholat dhuhur, akhirnya rombongan kami tidak turun ke jabal uhud. Bus kami hanya melewati jalan di tepinya saja.
Namun karena ingin sekali melihat tempat lain di Madinah, akhirnya hari esoknya saya dan keluarga memutuskan untuk menyewa taxi mengunjungi tempat-tempat yang lain. Info selebihnya di blog tentang ziarah Madinah.

Pengalaman di Madinah sangat menyenangkan. Madinah memang kota yang berkesan, dengan Masjidil Nabawi yang elok. Kami paling senang saat di masjid melibat payung di halaman Nabawi terbuka-tutup, saat dhuhur dan maghrib, atau melihat atap di bawah qubanya yang keemasan dibuka  saat berkumandang azan Shubuh, sehingga langit di atasnya terlihat dari dalam masjid. Arsitektur yang modern dan mewah, dan sangat mengesankan pengagungan atas masjid peninggalan Rasulullah dan basis beliau dalam menyebarkan agama Islam di awal-awal perjuangannya ini.
Subahanallah.

Madinah Menyambut

Minggu, 27 November 2011

Berangkat

Berangkat dari kampung halaman bersama kakakku, kakak ipar, dan ibu mertua kakak. Pada tanggal 6 Oktober 2011 beserta 1 kloter rombongan kami menuju asrama haji Sukolilo, Surabaya.
Sebetulnya keberangkatan ke Saudi baru esok harinya, tetapi memang sudah prosedur dari pemerintah bahwa jamaah haji harus dikarantina dulu sehari di asrama untuk menerima berbagai penjelasan dan perbekalan, dan dilarang keluar asrama, katanya sih biar tidak ada yang hilang saat hari H keberangkatan.

Sebetulnya apapun upaya pemerintah dalam pengaturan jamaah haji perlu diapresiasi. Terlepas dari kekurangannya, bisa dilihat mengatur jemaah dengan berbagai latar belakang, pendidikan dan sifat memang tidak mudah. Apalagi kalau jumlahnya ribuan. Di Sukolilo saja sudah terlihat ribetnya. Saat awal datang banyak jamaah yang dipanggil dengan membawa kunci kopernya. Ternyata, ini karena banyak yang membawa barang bawaan yang termasuk dilarang dalam penerbangan. Macam-macam saja barangnya, ada minyak goreng, cobek, paku dan palu, kompor, korek api, dan berbagai macam cairan. Alhamdulillah koperku tidak termasuk yang perlu "dioperasi" karena memang saya hanya membawa pakaian, dan alat sehari-hari sewajarnya.

Menjelang keberangkatan tanggl 7 Oktober, sejak dini hari jam 3 kami sudah dikumpulkan di aula asrama haji Sukolilo untuk mendapat pembekalan terakhir, menerima uang living cost sebesar 1500 SR, dan menerima paspor yang sudah distempel petugas imigrasi. Pemeriksaan isi tas tenteng melalui X-ray pun sudah dilakukan di asrama haji tepat saat naik bus. Berbagai proses yang biasanya kita lewati di terminal bandara ini sudah dilakukan di asrama, karena memang untuk keberangkatan jemaah haji ada perlakukan khusus, yaitu kami langsung diturunkan dari bus tepat di depan pesawat yang akan menerbangkan kami di terminal khusus haji.

Akhirnya pada pukul 7.00 pagi tgl 7 Oktober 2011 terbanglah kami dengan Saudi Arabian Airlines dari Surabaya. Diawali dengan pembacaan doa safar yang dibacakan oleh salahsatu crew (ini keistimewaan pesawat Saudi, yang bacakan langsung orang Arab :)  ). Alhamdulillah, sampailah kami dengan selamat di bandara Amir Muhammad-Madinah, pada jam 15.00 waktu setempat.
Berangkat

Senin, 19 September 2011

Persiapan

Alhamdulillah, tahun ini akhirnya menerima informasi resmi bahwa namaku termasuk dalam jemaah haji dari keberangkatan Jember. Inshaallah tanggl 7 Oktober adalah tanggal keberangkatan dari tanah air, sehingga tanggal 6 Oktober sudah siap di asrama haji Embarkasi Surabaya. Inshaallah menjadi kunjungan kedua ke Baitullah, setelah umrahku pada tahun 2007 lalu, yang membuatku selalu rindu untuk melihat tanah haram kembali.

Setelah menanti sejak mendaftar pada tahun 2008, akhirnya datang juga kesempatan pada tahun 2011 ini yang memang sudah diperkirakan sebelumnya. Memang bukan waktu tunggu yang cepat, tapi masih bisa dibilang cepat mengingat waktu tunggu jemaah haji di Jawa Timur untuk pendaftar mulai 2011 ini bisa menjadi 8-10 tahun.

Subhanallah, meskipun menunjukkan betapa sulitnya mendapat jatah keberangkatan haji, tapi ini juga 
menunjukkan begitu banyaknya jumlah calon jemaah yang semakin tahun semakin meningkat. Tentu penambahan jumlah penduduk jadi salah satu faktor. Tapi ini tentu juga menunjukkan peningkatan ekonomi dan yang terpenting kesadaran keimanan untuk menjalankan rukun Islam kelima.

Teriring ucapan Bismillahirrahmanirrohim agar dilancarkan semua hingga hari berangkat menuju ke Tanah Suci, tentu persiapan perbekalan sudah aku kerjakan. Mulai dari beli baju dan perlengkapan sandang di Tanah Abang, beli alat2, obat, buku, dan mengumpulkan berbagai informasi yang bermanfaat.

Alhamdulillah, semua bisa dipersiapkan sampai saat ini. Semoga Allah swt senantiasa melindungi dan memberkahi. Amin.
Persiapan