Hari-hari di Madinah selain sholat 5 waktu di masjid Nabawi terus menerus sampai mencapai 40 waktu atau disebut sholat arbain, biasanya banyak jamaah yang berburu masuk ke Raudhah.
Dalam satu hadits rasulullah menyebutkan bahwa antara rumahku dengan mimbarku adalah taman diantara taman-taman surga. Rumah rasul adalah yang sekarang menjadi makam beliau bersama sahabat. Dari sini ke mimbar atau tempat imam itulah yang disebut raudhatul janah atau raudhah.
Saya dan teman-teman rombongan tidak sengaja bisa ke sini pada hari kedua di Madinah. Awalnya kami sholat subuh masuk dari pintu yang tidak biasa, biasanya kami dari pintu tujuh puluhan yang terdekat dari arah hotel, tapi pada hari itu kami masuk dari pintu 25. Selesai sholat subuh para jamaah wanita di situ langsung merapat ke sisi batas shaf lelaki-perempuan.
Awalnya kami agak heran kenapa bukannya langsung bubar, malah merapatkan barisan atau "umpel-umpelan" di situ. Setelah melihat ada pembagian berdasar bangsa oleh azkar, baru kami sadar ini para jamaah yang akan ziarah ke makam rasul dan tentunya ke Raudhah. Kamipun langsung bergabung dengan jamaah Melayu. Jamaah Melayu ini bukan hanya orang Indonesia dan Malaysia, tapi juga Thailand. Ya, meskipun agama minoritas, tapi pada saat haji ini kami banyak menjumpai jamaah dari Thailand terutama dari daerah Pattani atau Thailand selatan. Mereka serumpun dengan kita, bangsa melayu dan memakai bahasa yang sama dengan orang Malaysia.
Area Raudhad ini luasnya hanya sekitar 22x20 meter, merupakan bagian dari tempat shaf jamaah pria. Bayangkan saja, area sekecil itu akan dimasuki oleh jamaah yang jumlahnya ribuan. Tentu kami harus sabar mengantri untuk bisa masuk ke dalamnya. Kalau beruntung mendapat panggilan pertama, waktu menunggu tidak terlalu lama, tapi kalau dapat giliran terakhir, ya sabar saja.
Sebelum masuk dan pintu dibuka, seorang azkar berbahasa melayu terlebih dulu memberikan arahan kepada kami dengan megaphone. Dia mengingatkan supaya tertib dan bersabar masuk ke Raudhah, dan tidak boleh berlari-lari karena ini merupakan area masjid serta ada makan Rasul yang agung. Dia juga mengingatkan jamaah untuk tidak egois dengan berlama-lama solat dan berdoa di sana, karena masih banyak jamaah lain yang menunggu untuk bisa beribadah di sana.
Selain itu, dia juga memberi arahan syariat tentang solat. Menurutnya, solat sunnah yang dicontohkan rasul hanya solat tahajud, istiharah, dluha dan solat mutlak. Sementara solat-solat sunnah lain yang sering kita lakukan seperti solat hajat tidak dicontohkan. Tapi masalah seperti ini memang akhirnya kembali kepada keyakinan kita.
Berderetan bangsa mulai dari Pakistan, Turki, Arab, India, Iran, Melayu dan yang lain yang jumlahnya sedikit di depan batas shaf. Akhirnya pintu Melayu terbuka terlebih dulu, yang berarti giliran kami duluan. Meskipun sudah diperingatkan untuk tidak berlari, tetap saja nafsu mengalahkan akal. Barisan pertama memulai berlari, yang di belakangnyapun mengikuti. Semua karena ingin cepat-cepat mendapat tempat di Raudhah.
Saat pertama melihat pintu raudhah dan pintu makam rasulullah di sampingnya yang hanya terlihat bagian atas karena tertutup tabir, semua jamaah terlihat menangis tersedu. Keinginan melihat dan merasa dekat dengan rasul yang mulia membuat kami tak dapat membendung air mata. Sambil berdoa dan bersolawat, banyak yang menangis bahkan sampai tersedu-sedu. Biasanya jamaah India yang “lebay” meratap di sini sampai ditegur oleh azkar. Kamipun segera solat sunnah 2 rakaat dan membaca doa yang ada di buku, tapi tidak berpanjang-panjang. Tak lupa juga memanjatkan hajat saya untuk dikabulkan.
Satu yang sangat memprihatinkan di tempat yang suci dan seharusnya terjaga ini, jamaah Indonesia malah banyak yang mengotorinya dalam artian lahir dan zahir dengan mencoret tabir yang menjadi pembatas area raudhah dengan menuliskan nama-nama keluarganya. Banyak yang bilang agar nama-nama itu ikut terpanggil ke tanah suci. Subhanallah, bukankah ini perbuatan yang mengarah pada kesyirikan dan coretan di kain putih itu sangat mengotori masjid dan tidak enak dipandang. Pada lain kesempatan saat saya akan melaksanakan solat lewat pintu 25, razia isi tas oleh azkar melarang kami membawa alat tulis ke dalam. Padahal alat tulis itu sering perlu untuk mencatat. Beginilah kalau ada perbuatan yang tidak benar oleh segelintir orang.
Satu lagi yang dilarang keras di dalam masjid, bukan hanya raudhah tapi keseluruhan area adalah mengambil foto. Meskipun banyak yang berhasil, tapi bila ketahuan azkar bisa-bisa kamera atau HP kita dirampas. Saya kebetulan menemui kejadian tersebut. Jamaah Indonesia yang dengan santainya mengambil foto padahal ada azkar di depannya, langsung saja kameranya diambil. Karena memohon sampai menangis akhirnya HP nya bisa kembali, tapi sang azkar mengancam kalau tertangkap sekali lagi akan dibawa ke polisi.
Kembali tentang Raudhah. Tempat ini memang tidak boleh dilewatkan oleh jamaah haji dan umroh. Meskipun ibadah di sini bukan rukun dan sunnah, namun suasana raudhah dan bahwa tempat ini disebut salah satu tempat yang ijabah, membuatnya selalu memikat para jemaah sampai rela antri dan menunggu untuk dapat berdoa di dalamnya.